2 Pelajar Kecanduan Game Online Curi Uang Ratusan Juta

Dua pelajar di Kabupaten Madiun harus berurusan dengan polisi, karena kecanduan game online, mereka nekat mencuri uang sebuah panti asuhan dengan total Rp 102 juta. Salah satu pelaku merupakan anak di panti asuhan tersebut.

“Betul kami baru mengungkapkan kemarin, kasus pencurian melibatkan dua pelajar dan satu di antaranya merupakan anak asuh salah satu panti asuhan di Caruban,” ujar Kasat Reskrim Polres Madiun, AKP Ryan Wira Raja Pratama, Sabtu 7 Agustus 2021.

Kedua pelaku yang masih di bawah umur, kata Ryan, yakni berinisial MY dan DW. MY merupakan anak asuh dari panti asuhan tersebut.

MY melakukan aksi pencurian usai salat maghrib di mana Jemaah masih menggelar selawatan dan doa Bersama. Uang hasil curian dititipkan ke DW.

“Pada saat selawatan dan doa-doa itulah MY memasuki ruang penyimpanan uang di panti asuhan tersebut, yang mana uang tersebut disimpan di dalam lemari panti asuhan. Setelah diambil uang tersebut diserahterimakan atau dititipkan kepada pelaku DW,” kata Ryan.

Ryan mengatakan, pelaku sudah 10 kali melakukan aksi pencurian sejak 2019. Total uang yang dicuri mencapai RP 102 juta. Selain untuk bermain game online, uang curian juga digunakan pelaku untuk membeli sepeda motor.

“Uang curian tersebut digunakan untuk game online, membeli HP dan juga sepeda motor. Dari keterangannya sejak 2019 sampai dengan 2021 total 10 kali melakukan pencurian yang mana total semua sekitar Rp 102 juta,” ungkapnya.

Ryan menambahkan, saat ini Satreskrim Polres Madiun masih melakukan pengembangan. “Kita masih lakukan pengembangan dengan harapan tidak ada merembet teman lainnya,” pungkasnya.

Bermula acara pengakuan kesalahan sebagai syarat untuk bergabung menjadi anggota perguruan silat, dua pelajar di Madiun akhirnya harus berurusan dengan polisi.

Dua pelajar tersebut adalah MY (13) yang merupakan anak asuh panti asuhan dan DN (17), warga yang tinggal dekat dengan panti asuhan.

Di acara tersebut, pelaku mengaku telah mencuri uang dari panti asuhan selama tiga tahun dengan total Rp 102 juta. Ironisnya, uang itu mereka gunakan untuk membeli kuota game online.

Kasatreskrim Polres Madiun AKP Ryan Wira Raja Pratama menuturkan, mulanya salah satu pelaku mendaftar menjadi anggota perguruan pencak silat di Kabupaten Madiun.

Para calon anggota diminta untuk mengakui dan menyebutkan segala kesalahan – kesalahan mereka semasa hidup. Hal ini merupakan salah satu syarat agar mereka bisa bergabung dengan perguruan silat itu.

Pelaku lalu membuat pengakuan yang mengejutkan. Ia menyebutkan, telah mencuri ratusan juta rupiah dari panti asuhan.

Keterangan tersebut akhirnya sampai ke pengasuh panti asuhan. Memang sejak lama, pengasuh panti asuhan mengeluhkan sering kehilangan uang dalam tiga tahun terakhir.

Namun, pengasuh tidak ingin menuduh karena tak memiliki bukti cukup. “Pengasuh panti sebenarnya sudah mencurigai pelaku ini.

Apalagi selama tiga tahun terakhir uang di pantai asuhan sering hilang,” kata Raja. Tindakan itu lalu dilaporkan ke polisi. Kedua pelaku ditangkap pada Sabtu 7 Agustus 2021.